Tembus 2 Juta Pemirsa, Ini Memukau dan Bermanfaat dari Two Blue Line Film

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler.

Film Dua garis Biru berhasil menembus 2 juta penonton dalam 15 hari, walaupun film ini telah menimbulkan kontroversi sebelum pemutaran karena dianggap mampu menjerumuskan generasi muda untuk melakukan hubungan seks di luar nikah. Film Dua Garis Biru memang berani membahas hal-hal yang masih sering dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Namun, berbeda dengan asumsi awal sebagian orang, tidak ada adegan seks di film ini. Dua Garis Biru menyentuh perasaan audiens sebagai cara untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya pendidikan seks dan kenyataan yang harus dijalani oleh remaja yang hamil di luar nikah.

Alur cerita Dua Film Blue Line

Film yang disutradarai oleh Gina S. Noer ini bercerita tentang pasangan, Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda). Dara dan Bima masih di sekolah menengah. Menariknya, Dara dan Bima tidak cocok dengan stereotip bocah nakal. Dara digambarkan sebagai anak yang cerdas dan bercita-cita tinggi, dan Bima sebagai anak dari keluarga yang beragama. Namun, hanya butuh beberapa saat di mana mereka mengendalikan diri untuk membuat mereka harus mengatakannya "Selamat tinggal" ke dunia sekolah menengah yang biasa mereka kenal. Mereka harus bertanggung jawab untuk mempertahankan kehamilan, menikah, dan memikirkan masa depan mereka, termasuk bayi mereka.

Para hadirin dihadapkan dengan perjuangan Dara dan Bima dan keputusan-keputusan sulit yang harus mereka buat, seperti bagaimana memberi tahu orang tua mereka tentang kehamilan Dara, cara merawat bayi lain, apakah Dara akan berhenti sekolah. Dara, Bima dan keluarga harus menyimpan rasa malu mereka terhadap tetangga dan teman mereka di sekolah.

Roller Roster Emosi

"# Dua Garis Biru apakah itu bagus Adegan 6 menit sekali pengambilan gambar itu menguras tenaga saya (bagi mereka yang menontonnya, Anda harus tahu adegan mana ini). Saya merasakan semua karakter (pasangan dan orang tua mereka) … akting mereka layak mendapatkan semua penghargaan. "-@ashiladania

Banyak momen yang menyentuh dan lucu dalam film ini. Semua itu bisa terwujud berkat skenario, arahan dari sutradara, akting, dan musik yang tepat. Satu adegan yang penuh emosi adalah adegan di UKS (Upaya Kesehatan Sekolah). Pada saat itulah orang tua Dara dan Bima mengetahui bahwa mereka akan menjadi kakek nenek dan bahwa Dara dikeluarkan dari sekolah.

Bagi penulis pribadi, momen yang tak terlupakan adalah ketika Bima berjanji kepada ibu Dara, Rika (Lulu Tobing), bahwa ia akan bertanggung jawab atas Dara dan bayinya. Rika menjawab dengan mengatakan, "Kamu pikir mudah menjadi orang tua? Aku baru saja gagal menjadi orang tua!"

Ada juga perjuangan untuk kelanjutan mimpi Dara untuk belajar di Korea dan siapa yang akan merawat bayi itu. Rika ingin cucunya diadopsi karena dia pikir Dara tidak siap menjadi seorang ibu. Sementara itu ibu Bima ingin anaknya menikah dan merasa bahwa keluarganya mampu merawat anak-anak Bima dan Dara.

Tentu tidak mudah menerima kenyataan yang datang tiba-tiba. Ada perasaan kaget, kecewa, menyesal, malu, dan khawatir. Keunggulan Dua garis Biru dalam hal ini tidak hanya menunjukkan kekecewaan orang tua terhadap anak-anak mereka, tetapi juga pada diri mereka sendiri. Secara keseluruhan, Dua garis Biru menunjukkan perjuangan keluarga dengan meyakinkan.

Selain adegan yang membuat penonton menangis, ada juga adegan yang membuat penonton tertawa, seperti di ruang tunggu klinik ketika keluarga Dara dan Bima bertemu Asri Welas.

Memberikan Pendidikan serta Kritik Halus

Dua garis Biru jelas memberi peringatan kepada remaja untuk tidak hamil ketika mereka tidak siap. Selain itu, film ini juga menyampaikan kritik untuk berbagai elemen masyarakat, termasuk orang tua, dan sekolah. Kritik itu disampaikan tanpa kesan ceramah, tetapi diilustrasikan melalui dialog, perilaku karakter dan penampilan visual. Berikut ini adalah kritik dan pesan pendidikan yang terkandung di Dua garis Biru:

1. Anak yang Baik Tidak Secara Alami Aman dari Kehamilan Dini

Dara dan Bima adalah dua karakter yang kontras. Dara adalah anak yang cerdas dan memiliki aspirasi tinggi dan berasal dari seorang & # 39; kaya & # 39; keluarga dan sangat peduli dengan pendidikan. Padahal Bima tidak terlalu pintar dan dari keluarga yang sederhana dan religius. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademis dan pemahaman agama tidak membuat seseorang kebal terhadap kehamilan dini.

2. Pernikahan Bukan Solusi Semua Masalah

Dua garis Biru mematahkan bayangan bahwa masalahnya akan terpecahkan secara otomatis setelah menikah. Misalnya, ketika Dara menuju ke rumah Bima. Dara melihat pasangan berkelahi. Kemudian, ketika Dara tidak bisa tidur di malam hari, Bima memberi tahu saya bahwa & # 39; alarm & # 39; di pagi hari adalah anak tetangga yang merengek untuk uang saku. Bima dan Dara juga bertengkar. Dara merasa bahwa Bima tidak serius mempersiapkan studinya. Sementara Bima merasa dia telah bekerja keras di restoran ayah Dara meskipun dia tidak suka memberi makan anak-anak mereka nanti.

3. Komunikasi antara orang tua dan anak-anak harus dijaga

Sebagai orang tua, orang tua Rika dan David dan orang tua Bima terlihat tidak berkomunikasi secara efektif dengan anak-anak mereka. Misalnya, ketika Bima sedang murung (setelah mengetahui bahwa Dara sedang hamil), ibunya memukul dengan banyak sekali pertanyaan dan membuat asumsi sendiri.

Pendidikan seks perlu didiskusikan, tidak cukup hanya dengan menutup akses ke konten yang dianggap & # 39; destruktif & # 39 ;. Cuplikan muncul di film. Ms. Dara, seperti banyak orang tua lainnya, menggunakan tombol & # 39; mudah & # 39; metode.

Rika: "Faktanya, ibu selalu memejamkan mata lho, kalau ada adegan dewasa dalam film."

Dara: "Apakah Anda, ayah dan ibu harus menonton film terlebih dahulu sebelum mereka dapat berciuman?"

Orang tua menunjukkan penyesalan dengan cara mereka sendiri. Pada akhirnya, kedua orang tua Bima dan Dara dapat secara perlahan memaafkan anak-anak mereka. Salah satunya ditunjukkan melalui percakapan ini,

Bima: "Bima selalu berdoa, jika Bima pergi ke neraka, ibu, jangan bergabung."

Ibu: "Jika kamu selalu berdoa agar Bima pergi ke surga"

Bima: "Bisakah masih dilakukan, ma?"

Ibu: "Kalau saja ibu perlahan bisa memaafkanmu apalagi Allah"

Bima: "Bima punya permintaan, kau harus bisa memaafkan dirimu sendiri"

Ibu: "Mari kita bicara seperti ini dulu, Bim. Mungkin tidak ada yang terjadi …"

4. Alusi ke Sekolah

Film ini juga & # 39; disentil & # 39; sekolah yang hanya merilis Dara. Meskipun Dara dan Bima sama-sama membuat kesalahan. Menurut penulis, ini dimasukkan dalam film untuk menunjukkan standar ganda dalam budaya patriarkal yang cenderung menyalahkan wanita.

5. Ketahui Risiko Kehamilan Remaja

Pendidikan tentang apa yang terjadi pada tubuh wanita selama kehamilan dijelaskan secara eksplisit oleh Dr. Firza (Ligwina Hananto), seorang dokter profesional tetapi tidak menghakimi. Dara dan Bima. Firza juga menjelaskan apa yang harus dilakukan seorang suami ketika istrinya hamil.

6. Bukan Bahan Gosip

Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika orang yang kita kenal mengalami hal yang sama seperti Dara dan Bima? Jika kita memperhatikan Dua Garis Biru hati-hati, ada satu contoh yang ditampilkan. Teman-teman Dara (dengan bantuan Rika) mengajak Dara berjalan-jalan dan berbelanja pakaian untuk menghibur Dara. Apa yang ditanggapi oleh penulis dari adegan ini adalah bahwa kita tidak perlu menilai dan menambah beban mental orang lain. Dara dan Bima memang melakukan kesalahan, tetapi mereka menghadapi konsekuensi dari kesalahan itu. Lagi pula, tidak ada jaminan 100% bahwa orang yang kita sayangi tidak akan melakukan hal yang sama.

7. Hal-Hal Yang Tidak Kalah Penting

Ada hal-hal penting yang perlu disoroti, meski hanya dalam satu atau dua kalimat dalam film ini.

Adegan di UKS penuh dengan hal-hal menarik, seperti ketika Rika bertanya pada Dara apakah Dara dipaksa oleh Bima untuk berhubungan seks. Sangat penting untuk memastikan bahwa ada paksaan atau tidak karena ada kemungkinan bahwa hubungan tersebut tidak & # 39; suka-suka & # 39; atau konsensual.

Selain itu ada perdebatan antara ayah Dara, David (Dwi Sasono), dan ibu Bima (Cut Mini). Ketika David menyalahkan Bima dan meneriaki ibu Bima, ibu Bima dengan tegas berkata, "Anak kami … Anak kami!" Memang, dalam situasi seperti itu, orang tua merasa sulit untuk menerima bahwa anak mereka, yang mereka anggap baik, terlibat dalam hubungan seks di luar pernikahan. Namun, orangtua tidak perlu sibuk menyalahkan orang lain. Namun, menyalahkan orang lain tidak akan menghapus rahim.

Tabrak Tabu

Saatnya untuk berhenti melarikan diri dari topik yang penting hanya karena dianggap tabu atau "tidak bermoral". Terlebih lagi, cap "tidak bermoral" hanya didasarkan pada penilaian sepintas atau kepanikan. Difilmkan atau tidak, kehamilan di usia muda adalah kenyataan di masyarakat kita. Sebagai gantinya, film dengan humor dan kisah menyentuh membuat pesan lebih mudah diterima.

Penulis: Elga Theresia

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *